Assalamualaikum 2019

Hari ini 1 Januari 2019..
Tepat satu hari setelah tahun masehi 2018 berakhir, banyak yang memilih untuk merayakannya. Tapi nggak sedikit juga memilih untuk merenung, flashback apa yang terjadi di tahun sebelumnya dan abis itu tidur.. Yaa seperti hari hari biasa aja. 
Sudah dua tahun aku lebih memilih stay dirumah ngumpul sama anak2 di kasur, becanda nggak jelas sambil menikmati tawa renyah anak – anak terutama “medium”.. nggak tau kenapa anak ini manis banget.. Pipi chubby dan tutur katanya yang yang manis, justru suka mengalah daripada kakaknya..Suka tiba tiba bilang “i love you mama..” dengan suara khas anak kecil.. atau tiba2 meluk dan cium pipiku.. 
Tapi yang lebih dalem sih yaa pastinya banyak ngobrol sama suami, Ayah tuh paling bisa banget menggiring pembicaraan untuk bisa sama sama menyimpulkan perjalanan hidup kita selama setahun belakangan ini dengan nanya “Apa pelajaran yang kamu dapetin?” atau pertanyaan yang berasa insecure seperti “kamu bahagia nggak setahun ini sama aku?“…  sambil senyum senyum nggak jelas kayak mau nyindir pengen dapat jawaban manis gitu.. Hehehe.. tapi nggak jarang setelah itu aku jadi malah banyak bertanya dalam hati ke diri sendiri. 
Yup.. 2018 banyak sekali perubahan pola pikir aku. Tentunya pengen lebih baik yaa, setidaknya untuk diri sendiri.
Ada cerita pengalaman hidup yang aku temukan di akhir tahun 2018 kemarin, rasanya sayang kalau aku hanya simpan sendiri… niatnya sih siapa tau dengan sharing ini ada yang merasa mirip pengalaman hidupnya denganku dan jadi nggak ngerasa sendiri.
Pengalaman baru yang aku dapetin di akhir tahun ini dan banyak baca beberapa blog, yang ngerasa pengalamannya sama dengaku rasanya jadi “hei.. aku nggak sendiri, ada juga yang sama dan bisa survive tuh“… 
Semoga bermanfaat.. Baca terus yaaa…


Alhamdulillah tepat 2 minggu sebelum 2018 berakhir ada pelajaran hidup yang aku hadapi bersama suami.Pelajaran akan ujian kesabaran dan ikhlasan..Aku melihat betul bagaimana proses perjalanan hidup ku tergambar nyata ketika aku refleksikan pada malam itu.. sujud dan memohon ampunan atas segala kesalahan, ke khilafan yang mungkin tidak aku sengaja.. atau udah tau nggak boleh tapi kelonggaran itu tetap aku jalani tanpa ngerasa ada yang salah. 
Karena manusia memang kalau nggak bersabar ya harus bersyukur.Ada banyak banget nikmat Allah yang diberikan ke kita yang sering banget kita lupa mensyukuri..

Aku dan suami memang merasa 2018 ini semuanya serba mudah, dilancarkan oleh Allah.Alhamdullillah… ada perasaan “hidupku seolah baik baik saja, apa yang aku harapkan Alhamdulillah terwujud. semua lancar. selalu tersenyum. Life was good.”
Sampai dengan persiapan RMTS kemarin adalah puncaknya. Meskipun tidak terbersit perasaan dan pemikiran apapun terhadap acara tersebut, namun aku merasa titik puncak pada malam itu. Sedikit banyak ada, tapi aku selalu berusaha istigfar meluruskan niatnya. Bagaimana tidak, semua orang memuji, memberi selamat, memberi jempol.. yah pokoknya berasa diatas deh.. Perasaan yang membahagiakan.
Tapi justru sebaliknya. Tahun ini berbeda, meskipun semua direncanakan lebih dan lebih dari tahun lalu justru ang aku rasakan sebaliknya. Persiapan RMTS semakin intens seminggu menjelang hari pelaksanaan, aku bisa full day di kantor (sambil tetep pumping ASI untuk oleh2 ke Kahfia di sela sela meeting, fitting, koordinasi dan semuanya).. Semua aku lakukan dengan sebaik mungkin, sebisa yang aku mampu dengan kapasitasku yang terbaik.
Dan Alhamdulillah semua sesuai dengan harapan, ada sih satu dua hal yang perlu perbaikan seperti waktu open gate molor 15 menit (lebih baik sih dari tahun lalu yang molor satu jam), tapi semua alhamdulillah berjalan baik. Kita harus bisa tanggung jawab dong sama sponsor utama yang baru, Tokopedia.  
hmmm… aku coba menarik nafas sedalam-dalamnya..Mencoba tenang dan memetakan apa yang terjadi..
Jadi inilah resolusi 2019-ku… Dulu aku bikin resolusi tertulis, sesuai urutan prioritas, aku tulis semua tanpa memikirkan mungkin atau tidak.. aku tulis sebanyak banyaknya. Mau tau? akupun kaget, justru hampir semua bisa terwujud. Hebat ya? Allah itu baik..Semacam alam bawah sadar kalau kita tulis itu kita akan menuju ke arah sana.Jadi tulis apa yang ingin kamu capai, tulis, baca sekerasnya dan ceritakan ke pasanganmu supaya bisa sama sama mewujudkannya.
Tapi 2019 ini berbeda..Aku udah nggak ingin mencapai ini, itu.. Pergi traveling kesana kesini..Melakukan ini itu… yang biasanya tahun sebelumnya aku beneran nulis secara detail wishlist setiap tahun. 
Tahun 2019 justruu… Aku ingin …Apa yang aku lakukan di tahun ini ada manfaatnya. Think twice before posting, before speak atau dalam merencanakan kegiatan dengan RMLC harus ada manfaatnya dari hanya sekedar ngumpul. 
kalau ingin sehat itu sih kewajiban ya.. meskipun susah emang.. hehehe.. ya jadi berdoa aja supaya bisa sehat.
Ada beberapa perubahan pola pikir sejak aku sudah mulai rutin ikut kajian bersama teman-teman.. Kok bisa? Bisa dong, tergantung lingkungan mana yang kamu pilih untuk bisa berubah menjadi orang yang kamu mau. Tahun 2018 emang berasa banget kan adanya gelombang hijrah para muslimah menjadi lebih baik.. Alhamdulillah lingkungan di Bintaro ini banyak banget kegiatan positif dan temen2 yang emang sama sama mau berubah. 
Ternyata.. aku jauh dari apa yang aku pikirkan. Aku pikir sudah cukup ilmu, ternyata masih jauuhh.. Aku pikir ibadahku sudah baik, ternyata banyak keliru. Bicara tentang kematian adalah hal yang tabu, takut dan “nggak usah bahas yang aneh2 deh”.. itu dulu, tapi sekarang itu kayak “apakah kita siap?” itu bisa kapan aja loh.. Shock… Tapi insyaAllah masih ada waktu memperbaiki diri sebelum waktunya selesai.. 
Titik dimana aku kembali mempertanyakan diri ini “apakah aku sudah baik sebagai seorang ibu?” kembali muncul setelah beberapa tahun lalu kejadian dengan Kinara. click disini untuk tau cerita itu lagi..
Bukan.. bukan untuk membuka cerita sedih, tapi setiap cerita sedih itu kita baca lagi sebenernya untuk memberikan pandangan ke diri ini bahwa sebenernya kita bisa melalui itu semua. Bahwa setiap masalah yang kita hadapi itu sebenernya nggak sesulit ketika kita jalani dulu. 
Menjadikan mind set ini untuk tidak selalu terpuruk dengan kesedihan karena pada akhirnya kita insyaAllah bisa melalui itu.Ketika kita bisa melalui itu semua, maka percayalah kita akan menjadi pribadi yang jauh lebih baik, lebih dewasa dari sebelumnya. 
Hanya saja aku selalu diingatkan bahwa dari setiap masalah hidup yang hadir, “tetap bersyukur Ria, ingat banyaknya kemudahan dan rejeki yang diberikan.. jangan terpuruk pada satu masalah sementara ada banyak nikmat Allah yang seharusnya kita syukuri”..
Ada juga aku pernah baca tentang artikel.. ya tentang anak yaa.. seperti ini inti artikelnya..Orang tua terlalu membanggakan anaknya, ada yang bangga anaknya bisa jadi dokter, jadi pengusaha sukses dengan gaji bersar dll padahal tidak ada yang bangga bahwa anaknya akan menjadi harapan untuk mendoakannya setiap malam. Bahwa anak itu adalah bekal kita untuk bisa ada yang mendoakan selamat ketika hidup nanti…
Sampai dimana aku mengajarkan anakku untuk selalu mendoakanku tiap malam, tiap saat ketika mereka ingatku..Jadi sekarang sebelum tidur aku selalu bilang ke Katya (yang udah mulai ngerti yaa).. “Katya mau kasih kado ke Mama nggak?.. doain Mama yaa”..
Aku dan suami sepakat kita harus selalu mawas diri ketika hidup terasa mudah, anak sehat, kerjaan lancar, semua bahagia dan rasanya semua baik baik aja.. Padahal kita harusnya memang bersiap untuk menghadapi fase lain dalam hidup.

…. berasa sok dewasa deh baca blog post ini.. MasyaAllah.. aku nulis nggak pake mikir, apa yang ada dalam pikiran aja.. Aku masih belajar, untuk bisa jadi lebih baik.. Harus di – ucapkan, karena itu kayak statement ke diri kalau ntar di tengah jalan berubah haluan. Itu gunanya teman, untuk saling mengingatkan.. Wanita itu kuat ketika bersama, ketika saling berbagi..Se-simple DM sahabatku “kalau lo butuh apa apa.. i’m all my ears to hear and to hug you ya ri”.. thats sooo relaxing and blessed to have a sincere friend.InsyaAllah tulisan ini niatnya untuk sama sama berbagi.. Kalau ada yang merasa terbersit ada konotasi lain, mohon dimaafkan, mungkin itulah kelemahanku yang nggak pinter merangkai kata… Yaa.. bukan orang puitis kaan..
Ini ceritaku menyambut 2019..Optimis dong insyaAllah karena kita nggak sendiri.. Semua orang punya cerita masing-masing, karena pada akhirnya kita akan berjuang sendiri untuk menghadap-Nya mempertanggungjawabkan apa yang selama ini kita lakukan di dunia. InsyaAllah semoga kita semua sebagai wanita, ibu, istri, wanita bekerja, ibu rumah tangga dan semua titel atau profesi yang kita lakukan bisa memperbanyak amal soleh ibadah kita nantinya.

Love,
Ria

Sharing is caring!
Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on whatsapp
Like this:

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *