ALL TIME PAGEVIEWS
1,431,774
BLOG ARCHIVE
09/09/2017

Haji 2017 - Perjalanan Penuh Hidayah

Labbaik Allahumma Labbaik..
Nggak pernah terbersit dalam pikiran akan menjalani perjalanan religi dalam usia dini bersama suami diusia 32 tahun.  Semua serasa dimudahkan oleh Allah SWT..

Ya berhaji adalah kewajiban yang diperintahkan oleh Allah, bagi yang mampu. 
Maka mampukanlah diri ini sedini mungkin, itu kata suamiku. 
Kita berusaha supaya kita pantas diundang oleh Allah, masalah berangkat atau tidak itu biar Allah yang mengaturnya. 
Dalam perjalanan ini peran suamiku amat besar, dia yang meyakinkan dan terus mendorong aku bahwa kita bisa, mumpung masih kuat fisik dan nggak mesti nunggu tua untuk berangkat haji, "nah iya kalau umur masih cukup" begitu kata suamiku.

Jadi apa sih yang menginspirasi kita berangkat haji?
Baca selengkapnya yaa...


Kita hidup sebagaimana lingkungan kita. jika kita terbiasa bergaul dengan orang soleh, insyaAllah kita bisa istiqomah berada dalam naungan islami. Kita nggak bisa memilih darimana keluarga kita dibesarkan, karena itu adalah given. Tapi lingkungan dan teman bisa kita pilih.. 

Alhamdulillah aku nggak salah pilih teman, karena merekalah yang menginspirasiku untuk segeralah berhaji. Temanku mampu untuk berkeliling dunia kok, tapi kenapa mereka malah memilih berangkat haji? 
Banyak kiat-nya, tergantung niat dimana salah satunya adalah ada yang menyisihkan uang hasil resepsi pernikahan dipakai untuk daftar haji. 
Dari ngobrol dan banyak diskusi disitu suamiku termotivasi, karena dia yang mengatur keuangan keluarga (ya, nggak mesti istri loh yang ngatur keuangan keluarga) jadi dia yang ngerti gimana caranya deh - yang penting ada niat untuk haji.

Kebetulan aku punya RMLC namanya mbak Awiez dan bekerja di travel haji dan umroh, menanyakan apakah aku sudah haji? aku jawab ya belum, tapi pengen. Kemudian kita dijelaskan mengenai haji ini. 

MasyaAllah.. ternyata ada banyak cara menuju roma, begitu pula dalam memenuhi panggilan Mu. Ada yang haji backpacker, ada yang penuh dengan kemudahan fasilitas. 
Ini kemudian kembali lagi ke kita, sejauh mana kita mau berkorban. Banyak diskusi dengan pasangan. Rezeki bisa dicari lagi, tapi haji belum tentu tahun depan kita masih ada umur.. Kalau bekerja itu seperti masih ada hari esok, tapi kalau ibadah usahakan seperti esok sudah tiada. 
Deg.. ini seperti statement kunci.. 
tidak ada jaminan kita masih hidup tahun depan.

Tapi apa iya tahun depan kita masih hidup?
Setelah begitu banyak nikmat yang diberikan, kita masih menunda panggilan-Nya??

Setelah banyak pertimbangan yang banyak kami berdua diskusi saling bertanya dan menjawab sendiri solusinya.. seperti..
gimana anak-anak ditinggal? ada orang tua yang insyaAllah ikhlas jagain mereka..
apakah kita sudah siap, bagaimana dengan solat, ibadah kita yang masih belum sempurna? tapi kalau mau terus mencari kesempurnaan ya nggak akan berangkat dong karena selalu nggak pernah bisa sempurna.
Ini gede banget biayanya? loh ini kita mau menghadap yang menciptakan kita, dipanggil ketika sudah mampu.. masa masih perhitungan. Kalau presiden memanggil kita ke istana gimana persiapan kita? pengen yang terbaik dong..
-- urusan biaya suamiku sempet nyindir sih "coba kamu hitung belanjaan tas, baju dan sepatu kamu deh, kalau dikumpulin bisa loh untuk nyicil haji". Kesel tapi bener juga, gimana dong.. Akhirnya nurut aja deh..

Ada temen yang cerita untuk menguatkan kita juga, bahwa kalau kita mengeluarkan biaya untuk ibadah nanti akan di ganti berlipat oleh Allah. Ya bismillah saja, yang penting kita tidak meninggalkan hutang ketika pergi.. 

Aku takut dibilang pamer (aku paling sedih ketika orang bilang ini.. sedih se sedihnya).. tapi karena banyak sharing maka aku dikuatkan lagi org disekitarku, kadang untuk sebuah kebaikan kita harus tunjukan supaya yang lain (yang positif thinking) insyaAllah jadi terpacu semoga digerakkan juga melakukan hal yang sama.. sama seperti aku tergerak ketika temanku seumuran sudah berangkat haji dengan suaminya.

Dengan bismillah akhirnya kami mantap untuk mengambil keputusan menunaikan ibadah haji tahun 2017. Bayarnya nyicil, tapi alhamdulillah lunas. Mengenai travel agent, percaya nggak kalau udah lama suamiku selalu berdoa dalam hati setiap lewat jalan pakubuwono untuk suatu saat bisa berangkat dengan travel Al Amin. MasyaAllah ini seperti sudah di takdirkan.

Bukan perkara masalah travel agent bonafit atau bagaimana ya ( tapi yang penting amanah dan terpercaya - mengingat ada kejadian kasus travel agent haji kaan), tapi suamiku pengen ketika kita berhaji bisa mendapatkan keluarga baru yang kita bisa belajar banyak dari mereka karena akan jadi keluarga baru selesai haji. Mereka yang selalu mengingatkan kita untuk istiqomah sepulang haji. 
Dan suamiku pengen memberikan yang terbaik untuk ku (suami yang baik selalu berusaha memberikan yang terbaik..) dalam perjalanan religi sekali seumur hidup ini.

Haji itu nggak mudah, bahkan sebelum berangkat. Banyak yang nyinyir selalu menanyakan udah nunggu berapa tahun, bayar berapa, loh itu kan ambil jatah quota orang yang sudah nunggu lama banget.. Maka kita pun diam saja sampai semua sudah siap termasuk visa. Orang yang pertama tau adalah orang tua kita berdua, ibu mertuaku nangis terharu ketika tau kita mau haji. 100% support yang namanya orang tua..

Tim Wardah pun mendukung dengan mengirimkan paket perjalanan haji yang sangat berguna. terimakasiih Alhamdulillah..


Aku tidak berencana untuk mengadakan walimatul safar, karena cukup doa orang tua yang mengiringi kepergian kita. tapi ternyata 3 orang tanteku, adiknya mama, pun berangkat haji di tahun yang sama. MasyaAllah.. semua sudah diatur dengan sebaik-baiknya oleh Allah. Jadilah kita walimatul safar di rumahku, panggil ustadz Yuke Sumeru untuk memberikan ceramah. Ada satu yang bikin kena di hati, bahwa perintah haji itu terakhir setelah solat, puasa dan zakat. Perbaikin dulu yang tiga itu sebelum melaksanakan yang terakhir.. Jalankan haji ini hanya karena Allah semata.. mengharap ridho-nya.

Malam sebelumnya aku gelisah.. aku pelukin anak-anak.. sambil beberapa kali menetes air mata, aku bangunin suami dan kita solat bareng. Suamiku menguatkanku..
Jika meninggalkan anak ini adalah pengorbanan, maka inilah yang dilakukan Nabi Ibrahim untuk mengorbankan anak kesayangannya atas perintah Allah. 
Haji adalah seperti flashback apa yang dilakukan Nabi Ibrahim dengan tata cara yang sudah diatur dan dilakukan Rasulullah dahulu..
Haji adalah ibadah yang diatur waktu dan tempatnya oleh Allah.
Aku pun menarik nafas.. lebih tenang karena Nya.

Kita berangkat pagi jam 07.00 karena pesawat jam 11.00 di antar supir ke bandara, sedih.. rasanya seperti mau meninggalkan semua.. Katya dan Kinara masih tidur.. sengaja aku mengendap endap di kamar takut mereka bangun.

Sebelum masuk mobil aku minta maaf banget sama mama papa yang Alhamdulillah bisa datang dari Padang..
Air mata deras ketika berpelukan dengan Mama.. 
Aku ingat semuanya kesalahan yang pernah aku lakukan, dan takut rasanya nggak bisa ketemu lagi dengan semuanya.. 
Aku ikhlas jika memang ini adalah panggilanMu maka aku rela tinggalkan semua.. Terutama Katya dan Kinara..
Aku titipkan semua hanya ke Allah.. 
Diperjalanan menuju bandara itu rasanya kayak mau menuju kematian.. 
Nggak tau kenapa ada perasaan seperti itu.. 

Alhamdulillah pelayanan dari travel sangat membantu memudahkan proses administrasi mulai dari Jakarta sampe ke Jeddah, meskipun tetap lama juga di Jeddah. kuncinya cuma satu yaitu sabar.

Sampai di Jeddah kita menghabiskan waktu 4 jam di imigrasi dan perjalanan cukup jauh dari Jeddah ke Madinah. Sampai di Madinah pas ketika adzan Subuh.. 
Merinding.. begitu melihat Nabawi dengan ribuan orang berjalan menuju masjid..
Lelah di perjalanan tapi aku harus subuh di Masjid.. ini Nabawi.. 
Assalamualaikum ya Rasulullah..




Ketika aku posting photo diatas di instagram, banyak yang komentar untuk diingatkan tidak riya', fokus ke ibadah, jangan pamer, nggak kasian apa sama yang belum berangkat, kok ibadah selfie2 melulu..
Sedih.. sediiihh dan sedihh.. akhirnya aku postpone posting dan jarang postingan.
Sedihnya adalah.. kenapa masih ada orang yang punya pemikiran ibadah itu pamer ya? 
Aku pikir mungkin seharusnya ini jadi motivasi.. sama.. sama seperti aku termotivasi teman yang berhaji duluan, sehingga aku minta sama Allah untuk bisa berangkat dan Allah menjawab.. 
So we are what we think actually, unfortunately many peoples are thinking the opposite way. 
Tapi mungkin tidak semua orang positive thinking, jadi biarlah aku share sepenuhnya di blog ini sepulang haji. I need to let go those negative comments.. Karena aku orangnya sangat peka terhadap komentar orang.. 
Cukup suamiku aja yang tetep masih posting di IG selama perjalanan haji karena buat dia ini personal dan dia mau share ke keluarga tentang perjalanan ini. 




Kami bersiap ke Mekkah untuk umroh, karena kami haji Tamattu (berumroh dulu kemudian berhaji). 
Dari Madinah sudah berihrom mengambil Miqot di Bir Ali. 
Perjalanan lamaaa naik bis karena macet bangett..
Sampai di Mekkah jam 12 malam kita mulai tawaf jam 01.00 dini hari dan selesai Sa'i jam 03.30 pas beberapa saat kemudian adzan. 
Huftt.. ini rasanya capeekk banget karena memang lagi super padat bangett..
Meskipun badan ini capek tapi alhamdulillah pas kita tawaf itu udaranya justru sejuk..
Pertama kali melihat Ka'bah itu rasanya merinding.. 

Sama halnya ketika selesai tawaf dan sholat dua rakaat itu aku menangis lagi.. dalam sujud dan hati aku berkomunikasi 
"ya Allah aku memenuhi panggilanmu.. ini aku dan suami datang ke tanah suci untuk berhaji karena Engkau.. memenuhi panggilanMu.. Aku tinggalkan semua, aku titipkan semua di Indonesia dan aku disini hanya untuk Engkau.."
Bangun dari sujud dan membuka mata, Ka'bah yang aku lihat.
Udara sejuk dan orang masih tawaf.. Aku merasa tenang..
Aku salam tangan suamiku sambil minta maaf dan terima kasih sudah membawaku kembali ke tanah suci.. 
Setelah minum air zam-zam, kita melanjutkan Sa'i (ini yang berat sebenernya..)


Selesai umroh aku istirahat sampai jam 11.00 karena harus segera ke masjid untuk sholat dzuhur. Disini lagi musim haji, pintu masuknya ada jam. jadi minimal 1.5jam sebelumnya harus sudah masuk atau kita nggak boleh masuk karena masjid udah penuh. Beberapa kali aku memilih solat di hotel yang memang ada ruangan dimana kita bisa lihat Masjidil Haram dari luar. Lebih tenang dan khusyuk sih karena AC dan nggak berdesakan, tapi biasanya aku solat disini kalau urgent dan udah telat. Kita harus atur strategi dan kesehatan, karena ibadah utama adalah Haji. Jangan sampai sakit pas haji.

Alhamdulillah aku ada temen-temen yang selalu janjian dan semangatin untuk ke masjid. maklum aku nggak berani untuk ke masjid sendirian, mesti minta di temani. karena dulu aku pernah dapat pengalaman yang nggak enak.

Jadi ini lah kegiatan kita sambil menunggu waktu Haji.. hanya sholat, ngaji, makan, tidur, sesekali jajan atau beli snack enak di Bin Dawood. Supermarket andalan yang semua ada. Ternyata proses sebelum maupun ketika haji itu menyenangkan (kita bawa mindset kita perjalanan ini menyenangkan), dan memang sejak manasik kita dibuat agar tidak terlalu khawatir, asal jangan sombong dan ngomong asal / menjaga mulut kita.. nikmati setiap moment selama di Mekkah. 
Jadi ya kita menikmati sekali prosesnya, ke masjid, janjian di lobby, pulangnya makan pizza, makan ice cream, ke masjid lagi begitu terus sampai isya dan tidur.





Dua tahun lalu, kita didepan ka'bah. saat Kinara dalam kandungan kita pegangan tangan seperti ini. Bedanya yang tawaf tidak seramai ini. 
Alhamdulillah kita masih bisa mengulang perjalanan ini bersama, kali ini untuk haji. 
Kamu selalu dalam doa-ku..

Persiapan proses Haji dimulai, kita sudah berihrom malam sebelumnya kita berangkat ke Arafah. Kita tidak bermalam di Arafah. Maktab 114, ternyata MasyaAllah kita satu maktab dengan ketiga tanteku.. Jadilah kita bisa ketemuan ketika waktu sore. Nggak bisa lama-lama karena semua fokus berdoa.. Inilah moment haji, yaitu Arafah.
Panas luar biasa.. 
Mungkin neraka lebih dari ini yaa.. merinding rasanya.. 
Alhamdulillah tenda kita ber AC jadi sejuk.
Dalam hati pengen juga merasakan kondisi tenda lain yang sepertinya AC-nya tidak sebanyak kita. 
Allah kabulkan, ketika lagi ceramah Arafah AC mati, padahal sudah ada genset. hanya 15 menit tapi keringat bercucuran seperti di dalam sauna. 
MasyaAllah... tapi kita semua diam, nggak ada yang ngomel atau ngeluh.
Kemudian AC nyala lagi.. Alhamdulillah..

Aku isi dengan doa, tadinya udah ada list mau doa minta apa aja.. tapi pas doa sambil memejamkan mata yang diminta hanya minta ampunan.. 
mulai dari mata, mulut, tangan kaki dll.. terutama mulut dan hati yang dosanya banyaaakk.. padahal mereka akan menjadi saksi ketika di dalam kubur.. 
Air mata jangan ditanya, mengalir deras tanpa diminta rasanya nggak berhenti nangis.
Malu.. malu sama semua nikmat yang diberikan tapi kita suka melupakan perintahnya.
Setelah hati tenang baru deh minta satu satu doa titipan teman dan keluarga. mulai dari jodoh, keturunan, minta di panggil haji dll.. Terus ngaji, terus dengerin ceramah, makan, minum terus istirahat dan jalan melihat kondisi di sekitar maktab.

Entah kenapa sore hari udara sejuk, tidak ada matahari.. tertutup awan.. Semua orang keluar tenda dan berdoa.. Ada yang berdoa diatas batu, selebihnya berdoa diluar tenda. Ketika aku memejamkan mata merasakan betul ada sentuhan Allah dan para malaikat hadir disana.. Nggak terlihat tapi aku yakin ada..
Yang tadinya panaaass dan gerah mendadak jadi sejuk.. 
MasyaAllah.. 



Ini kondisi maktab 114, semua sudah ada kavling-nya, jalanan sudah pake paving block, fasilitas kamar mandi dll sudah lengkap.

Jam 10 malam kita naik bis untuk menuju Mina melempar jumroh Aqoba. Nyampe di Mina jam 6 pagi, jadi kita di bis selama 8 jam. Dalam perjalanan kita berhenti sebentar di Muzdalifah.. 
Aku merinding dan menangis melihat jutaan umat muslim tidur di atas tanah.
Tidak ada pembeda satu sama lain, nggak terlihat mana yang kaya atau miskin.
Semua sama, berbalut kain putih maaf - seperti mayat atau mungkin ini gambaran ketika nanti di padang Mahsyar, ketika para mayat dibangkitkan dari kubur..
MasyaAllah.. Yang selama ini mendengar cerita, kali ini aku melihat sendiri..
Gambaran akhirat.. Rasanya jangan meninggal dulu deh.. Pengen taubat..
Disinilah Allah bangga akan umatnya yang rela berkorban untuk menjalankan perintahnya..


Sesampai di Mina, kita harus jalan karena Bis sudah tidak bergerak.. Sejauh 3 kilo kita berjalan dan nanjak menuju Jumroh Aqoba. Matahari pagi jam 9 pagi sudah terik, panas sekali rasanya.. Padat bangeeettt... ribuan orang memadati area jumroh..
Suara batu yang dilempar seperti irama hinaan untuk setan.. Aku melempar dengan sedikit ada emosi, karena memang begitu seharusnya.. 
Dari photo dibawah kelihatan betul matahari berasa dekat dengan kepala, mungkin ini gambaran ketika kita menunggu untuk di hisab..

Jadi doaku adalah masukan aku kedalam surga, berdiri dibelakang Nabi Muhammad sebagai umatnya untuk bersamanya masuk kedalam surgaMu..


Dari Mina kita kembali ke Mekkah untuk Tawaf Ifadoh..
Sampai di kamar dan melihat TV suasana Ka'bah yang rameeee bangett.. 
Sempet drop karena takut melihat ribuan orang melakukan tawaf, takut kegempet dan sesek napas aja. 
Tapi suamiku meyakinkan kalau semua bisa dijalani, semua akan ada akhirnya jadi kita harus menjalani saja. Meskipun setelah selesai dia baru bilang ternyata dia juga worried, apalagi harus jagain istrinya.
Akhirnya meskipun terpisah dengan rombongan, aku merasa bisa lebih cepat dan khusyuk kalau berdua suami. Dia yang memimpin doa dan menghitung jumlah putaran. Aku ikut aja imamku.. 
Nggak berasa tuh ternyata sudah selesai Sa'i aja..
Alhamdulillah.. sejak saat itu selesai sudah ihrom kita dan suami tahalul gundul deh.



Banyak yang bilang hati hati suami istri nanti berantem.. Aku pikir, nggak lah.. suamiku sabar kok, dan rasanya apa yang mau jadi bahan debat?? memang selama proses haji alhamdulillah aman aja, tapi begitu selesai Sa'i dan sampe hotel ternyata ada aja dong yang bikin kita berargumen. sampe kita berdua diam dan istigfar, langsung maaf-maafan.. Kita lupa kalau ini masih ada godaan setan loh.. Aku lupa sedikit takabur dalam hati kalau kita hebat nggak berantem, eh ternyata cuman 10 detik ada aja yang jadi bahan berargumen. Entah kenapa suamiku lepas emosi juga. Setelah ditanya, ternyata dia berpikir proses hajinya udah beres nih. 
Kita bersyukur diingatkan dan mengalami, jadi berantemnya tidak sampe berlarut-larut.. malah bikin kita tambah sujud. 

Dan diatas adalah photo kita berdua setelah prosesi haji selesai (tinggal lempar jumroh kedua dan ketiga)..

Suami langsung ngajak ke rooftop masjid, dia bilang view-nya luar biasa.
Dia bawain kursi supaya aku bisa nggak pegel berdiri..
Jadilah aku duduk disitu sambil memandang Ka'bah dari atas, melihat orang tawaf itu luar biasa MasyaAllah nggak bisa berkata apa apa.. 
Kita berdua berdoa lagi, kali ini dia yang memimpin..
Ketika berdoa untuk orang tua dan anak, aku menangis lagi...
Aku salam tangan suamiku, minta maaf.. karena dosa itu banyak dalam rumah tangga.
Dia tersenyum dan bilang kalau aku istri soleha yang dia banggakan.. 
Sore itu sangat romantis dan penuh makna.. 
Aku bisa merasakan kasih sayang dari suamiku sangat dalam..
Kita berdua akhirnya di rooftop sambil nunggu waktu maghrib dan isya bersama..

Di sini aku merasa bersyukur punya suami yang soleh, insyaAllah.. bisa jadi pemimpin mengajakku untuk ibadah dan segera berhaji. Terlebih mengingat kematian sebelum berangkat, sampe dia bikin surat wasiat.. pas bacanya aku nangis..



Baru kali ini aku melihat Ka'bah seramai ini, yang tawaf sampai ke ujung, bahkan di lantai rooftop pun penuh..
Tawaf Wada adalah tawaf terberat yang pernah aku jalani, karena hampir seluruh jamaah haji datang dari Mina. Padat sekali.. tapi alhamdulillah bisa selesai..
Meyakinkan bahwa seberat apapun kondisinya, insyaAllah bisa selesai kok.

Alhamdulillah pada haji tahun ini aku bisa ketemu sama temen-temen yang ternyata juga berangkat haji. Seperti Hanna, Oki, teh Desy, Samia dan bahkan ketemu sama orang Indonesia yang berangkat haji dari London dan New York. Mendengar cerita dan pengalaman mereka, aku makin bersyukur dengan apa yang aku hadapi, alhamdulillah semua lancar. Aku hanya bisa berdoa agar Allah menerima dan menjadikan hajiku dan suami mabrur. Karena hanya Allah yang berhak menilai..



Dalam grup aku seperti ketemu dengan saudara baru, berasa belajar banyak dalam hal rumah tangga dan mendidik anak. karena aku paling muda diantara mereka.. Pemikiran mereka modern, tapi nggak lupa dengan agama. hidupnya dibawa santai.. Alhamdulillah lingkungan baru, saudara baru..

Ketika pulang dan pergi naik Saudi Airlines, kita ketemu sama pramugari yang ternyata teman sepupu suamiku.. Cerita banyaaaakkk tentang pengalaman jadi pramugari.. yang bikin seru jadi ada temen ngobrol di kitchen kalau kita bosen. Bahkan pas pulang ke Jakarta sempet solat di pesawat. Yes... Saudi Air menyediakan space untuk solat loh.. Seru kaann?!!! Jadi beruntung naik Saudi Airlines deh..


semua photo ini diambil pake HP suami, dia yang fotoin karena aku nggak mau terganggu sama hal photo2an.. tapi selama itu tidak mengganggu buat dia ya biarlah supaya ada kenangan. Sekarang berguna banget ngeliat photo2 di HP untuk mengingat perjalanan kita disana.

Sakit? semua orang rata-rata sakit, katanya hanya pohon yang nggak sakit. hehehe...
Karena ketika solat hampir semua batuk, flu dll. Semua sakit, kecapean dan virus dimana-mana. Aku selalu pake masker.. tapi tetep aja sakit untungnya sepulang haji.. 

Setelah aku merenung dan diskusi sama suami, bahwa haji ini adalah refleksi tentang kehidupan. Kadang kita hidup enak, bisa jadi besoknya susah. Seperti kita tidur enak di hotel dan besoknya tidur di tenda arafah. Kadang jalanan lancar kadang macet. Kadang dingin tapi sering panas, tapi sebenernya pas haji justru udara lebih dingin loh kata orang di Jeddah. 
Semua kalau dijalani dengan ikhlas karena Allah, yang aku rasakan semuanya ringan saja. Alhamdulillah..

Haji itu ibadah fisik.. fisik dan mental.. Tapi aku ketemu sama beberapa jamaah Indonesia yang usia lanjut tapi masih semangat dan kuat. Mereka sudah menunggu lama untuk berhaji.. Jadi malu kalau dikit-dikit ngeluh kecapean..
Itu pengalamanku, tiap orang ceritanya beda-beda. 
Jangan di banding-bandingkan.
Jangan bilang dia mah enak pake ONH plus, atau nih kita yang haji reguler yang bener.
Kalau nggak haji arbain nggak sah..
Duh.. aku rasa kita tuh ya terlalu sibuk menilai orang lain, merasa kita lebih baik padahal semua milik Allah.. 
Kita nggak mau kan kalau dibanding-bandingkan sama orang lain?
Jalan hidup orang beda-beda, begitu juga dengan pengalaman haji.
Banyak yang takut nanti dihukum langsung ketika pergi haji karena perbuatannya di dunia, tapi lebih baik diingatkan di dunia kan? masih ada waktu untuk taubat.

Haji mabrur adalah ketika kita pulang haji dan kita berubah menjadi pribadi yang lebih baik, baik hubungan sesama manusia maupun dengan Allah. 
Aku share disini lebih ke pengalaman, hidayah yang aku dapatkan.. 
Jadi apakah blog post ini terlihat pamer atau justru memotivasi untuk segera berhaji, itu terngantung kamu.. tapi semoga bermanfaat ya..
Setidaknya dengan menulis disini aku merasa refleksi kembali dengan perjalanan ini. 
Semoga nanti Katya dan Kinara bisa membacanya..

Kamu bisa, insyaAllah bisa berhaji..
Tulis tahun berapa mau berangkat, berdoa dan ikhtiar.
Berhaji selagi muda!


Love,



Ria

POPULAR POSTS THIS MONTH

Jakarta Fashion Week 2018

Bulan Oktober ini sudah jadi jadwal perayaan fashion week di seluruh dunia, termasuk ...

riamiranda Annual Trunk Show 2018

Assalamualaikum..Waktu rasanya cepat sekali berjalan, nggak kerasa banget ini udah mau akhir tahun ...

aku dan HIJUP.com

Assalamualaikum..Hmm.. kalau ngebahas tentang RMTS itu nggak habis habis sih.. soalnya memang ada ...