ALL TIME PAGEVIEWS
1,219,162
BLOG ARCHIVE
06/03/2016

Am I good enough?

Apakah kita cukup baik dalam menjalankan peran sebagai istri? ibu? terhadap pekerjaan yang menjadi bukti bahwa kita bisa berkarya?

Pertanyaan ini berputar dalam pikiranku beberapa minggu ini.. kenapa?

Hari itu perjalanan pulang dari Kemang Medical Care, jalanan Ampera macet seperti biasa dan aku minta supir untuk lewat Jeruk Purut ngelewatin rumah Tia sahabatku. Tapi nggak mampir karena pasti lagi tidur ngurusin Ayra baby girl yang baru sebulan..

Untungnya suami nemenin (meskipun harus cancel meeting penting dengan media yang udah dia atur jauh hari), dia rela untuk cancel supaya bisa nemenin aku. padahal aku nggak maksa juga.. hehe kadang No means Yes for us, right? and he knows me well so… he's with me..


Sampai rumah aku jadi pengen curhat dan sharing..

Minggu ini aku kena ujian sakit yang namanya mastitis (kakak dari mbaktitis) kalau ibu menyusui pasti tau tuh. Jadi sakit ini karena ada bakteri dan penyumbatan ketika menyusui yang mengakibatkan penggumpalan / peradangan didalam. Mastitis biasanya ditandai dengan adanya satu bagian di salah satu payudara yang terasa sakit. Terasa hangat saat disentuh dan atau berwarna kemerahan. Ibu juga mungkin mengalami demam, menggigil, dan nyeri tubuh. Penyebabnya banyak, bisa jadi karena bayi saat menyusui pelekatannya nggak sempurna jadi nyusunya nggak sampai habis, kondisi badan kita lagi drop dan masih banyak lagi deh.. Pencegahannya bisa baca disini.

Kalau nggak diatasi segera bisa menjadi Apses dengan kondisi paling parah harus dibedah untuk dikeluarkan. Banyaak banget saran yang aku dapatkan, sampai akhirnya aku ke Kemang Medical Clinic dan ketemu dengan Dr. Asti Praborini..

Disana aku berasa "terpukul" dan kena banget dengan apa yang disampaikan bu dokter yang sangat amat Pro ASI dan say no to baby dot. Bahwa memang dalam Al-Quran kita sebagai ibu diwajibkan untuk menyusui anak secara langsung (tidak melalui dot- lebih baik pake cup feeder) selama dua tahun. Kalau nantinya dalam perjalanan banyak yang nggak sampai dua tahun itu beda cerita lagi, tapi itu kewajiban kita sebagai ibu.

Bahwa seorang wanita itu kewajiban utama adalah menyusui anak dan bukan bekerja. Sementara kejadian sekarang banyak yang kebalikan – kena banget deh ini. Meskipun pekerjaanku sangat flexibel, tapi makin kesini kok makin banyak kerjaan dan rasanya nggak habis-habis. 

Oleh Dr Asti, Kina ternyata ada Lip dan Tounge tie sehingga harus di gunting. Aku paling nggak tega ngeliat anak digituin dan nangisnya bikin lemes badanku.. Untung ada suami yang dengan santai bilang "nggak apa apa kok, ntar juga sembuh" ya tapi aku lemess..

---

Sekarang ini nggak cuman men-design, tapi harus meeeting koordinasi kalau mau ada project show juga project lain atau menyelesaikan daily challenges di kantor (bukan masalah yaa tapi tantangan yang harus dicari solusinya). Rasanya kok setiap bulan jadi ada aja kerjaan, bersyukur tentunya tapi ini seperti berlari tapi nggak ada garis finish-nya.

Dari situ aku merasa dan berpikir banyakk.. diskusi juga sama suami tentunya. 

dalam perjalanan...

"say.. apa aku cukup baik sebagai istri?" tanyaku ke suami yang sambil buka laptopnya

"ngomong apa sih? kamu memang nggak sempurna tapi aku tau kamu sudah berusaha maksimal buat jadi yang terbaik".. "udah deh.. nggak usah terlalu dipikirin.. santai aja kan ada aku juga" kata suamiku masih sambil buka laptop dimobil.

Aku memang orang yang lebay kalau mikirin sesuatu.. 

Tapi aku merasa apa yang terjadi sama aku ini seperti berkah. 

Ketika punya anak kita seorang ibu dihadapkan pada pilihan : karir atau mengurus anak, travelling atau mengurus anak dan sebagainya. Anak akan selalu always menjadi bahan pertimbangan yang dipikirkan dengan matang dan sebaik-baiknya kalau mau melakukan sesuatu. 

Dulu pas Katya lahir, aku banyak banget menolak tawaran untuk roadshow ke launching komunitas hijabers di kota – kota Indonesia. Karena nggak mau ninggalin Katya dan kecapean sama hal seperti itu. Sekarang banyak banget yang menanyakan kok Uni nggak ikutan show di luar negeri? Bahkan sampai RMLC ikut ngebahas tentang hal ini – in a good way yaa, mereka perhatian banget deh.. 

To be honest.. tahun ini ada beberapa project yang akhirnya aku tolak karena anak. Bangkok Fashion Week nggak diambil karena Indonesia Fashion Week. Ehh ternyata malah ditugaskan ke Melbourne event bersama ETU dari Wardah. Terus gimana sama Kina?? 

Lagi lagi bukan tanpa pemikiran dan pertimbangan untuk meninggalkan anak.. untungnya keluargaku support banget banget.. Mama datang dari Padang, adik ipar siap untuk menyusui Kina selama aku pergi. Sepupu suami juga siap untuk kasih stok ASI..

---

“kalau saatnya datang dengan segala kemudahan dan kesiapan insyaAllah semua siap. Tapi sekarang kamu masih ada tanggungjawab ke anak, ke kerjaan atau fokus sama RMLC yang selama ini support kamu - jangan cuma take tapi harus bisa give juga buat mereka”kata suamiku tiba-tiba (ternyata dia mikirin juga)

aku terdiam sejenak..

Aku teringat dan sharing ke suami pengalaman dari Anne Avantie – designer kebanggan Indonesia ini ternyata nggak berani sama sekali naik pesawat. Akibatnya justru bisa focus di pasar dalam negeri, lebih dekat dengan agamanya dan bisa berkontribusi dengan social sekitarnya.

Biyan harus menunggu sekitar 30 tahun untuk bisa go internasional, dimana bajunya bisa masuk ke netaporter.com satu satunya designer Indonesia yang bisa masuk. Lihat komunitasnya ketika melakukan annual show, lihat bagaimana cinta dan support para loyal customer yang kerasa banget udah jadi seperti keluarga Biyan. Kenapa dia nggak mau stay di Paris karena semua karyawan yang sudah setia dengannya ada di Indonesia.

Aku mau seperti mereka, yang focus, sabar dan menunggu waktu yang tepat untuk bisa dibukakan jalan. Suami bilang aku sangat amat nggak berambisi dalam segi karir. Beda dengan suami yang sejak sekolah dulu ikut organisasi dan beberapa kompetisi. Jiwa kompetisinya mungkin lebih tinggi dibandingkan aku. Jadi kita saling melengkapi. Aku belajar untuk bisa punya target tujuan, terutama dalam kerjaan dan suami belajar untuk lebih santai dan menjalani yang ada dengan sebaiknya. Suamiku bilang jadi lebih bisa santai dan menghargai setiap waktu yang ada dan dijalani saat ini. 


"kamu adalah istri dan ibu yang baik, itu cukup buatku" kata suamiku..


dan itu juga cukup buatku.. 



Alhamdulillah sekarang sudah mendingan sakitnya, aku lebih fresh dan bisa berpikir lebih clear. Kita menjalankan tugas masing-masing, semua sudah ada yang mengatur : Allah dan kita menjalankan sebaiknya. Kalau Allah tidak ridho, tentu nggak akan jalan apapun yang kita rencanakan. Jadi bismillah untuk perjalanan ke Melbourne sama suami, aku titipkan Katya dan Kina sama perlindungan Allah melalui mama papa dan bapak ibu.


Kita nggak akan pernah bisa jadi ibu yang sempurna, tapi aku akan selalu berusaha jadi yang terbaik buat keluargaku sendiri..


6 Mar 2016, 


Ria.

 

POPULAR POSTS THIS MONTH

riamiranda Sans Titre - Ramadhan 2017 Collection

Bismillah untuk koleksi Ramadhan 2017 kali ini..tahun lalu alhamdulillah diterima baik untuk ...

Sehari jadi Guru TK

Hihihi.. seru kali yaa..begitu ditawarin sama gurunya Katya untuk mengisi parents sharing session ...

Behind The Scene - Wardah TVC Filler Ramadhan

Assalamualaikum May!!Nggak kerasa udah masuk bulan Mei, dan sebentar lagi Ramadhan sudah mau ...

riamiranda Outing 2017

Alhamdulillah setiap tahun bisa ngajak semua #riamirandateam untuk liburan outing kantor. Ini udah ...

Behind the Scene - #RoycoShareAMeal Campaign

Alhamdulillah ada kesempatan untuk terlibat produksi dengan brand besar dari Unilever lagi.Kali ini ...