ALL TIME PAGEVIEWS
1,748,493
BLOG ARCHIVE
21/07/2018

Lahiran Anak Ketiga, Kahfia.

Assalamualaikum Kahfia!


Punya anak itu seperti keajaiban, ada perasaan dibutuhkan dari seorang makhluk kecil. Memeluk dan memandang tatapan polos mata seorang anak bayi itu kenikmatan yang bikin kangen. 
Dari situ aku ngerasa pengen hamil lagi untuk kali ketiga.

Awalnya memang penuh pertimbangan, apakah aku sanggup untuk mengurus tiga anak disaat kita berdua sedang mempersiapkan pertumbuhan usaha, beberapa rencana dalam keluarga rosadi dan masih banyak lagi yang kalau semua dibahas akhirnya malah ragu.

Cuma aku inget kalau ternyata aku tuh sangat menikmati moment menyusui, menggendong bayi, tidur disebelahnya dan yang paling bikin ketagihan itu mencium bau badannya kalau abis bangun tidur. 

Melihat usiaku yang terus bertambah, dan rasanya Kinara sudah siap untuk punya adik lagi dengan jarak perbedaan 3 tahun dari Katya, Kina dan sekarang Kahfia. Rasanya insyaAllah kalau memang rejeki di kasih kepercayaan aku siap.

Bismillah... ini cerita kelahiran putri ketigaku, Kahf!

Sepulang haji, aku dan suami sepakat untuk ikhtiar buat anak ketiga.
Ternyata nggak mudah juga, karena kita pengen program untuk anak laki, bukan karena biar lengkap semata sih, tapi katanya kalau anak laki itu beda aja cara mendidiknya. Dan suamiku juga bilang nanti kalau umroh, berarti dia sendirian dong ke shaf laki sementara aku handle 3 orang anak perempuan semua. 

Semua teknik sudah dipelajari dan dicoba tapi nggak berhasil. 
Sampai suami bilang, "kita tuh fokus sama tujuan tapi jadi lupa untuk nikmatin prosesnya loh.. kayak yang dikejer dateline gitu"
 "ya udah yah kita nikmatin aja prosesnya, nggak udah dipikirin juga santai aja.. Mau laki atau perempuan buat aku sih sama aja. dapat laki ya jadi lengkap, dapat perempuan lagi alhamdulillah bisa bikin the next AB Three" kata suamiku.. 
Makannya dia ngajak traveling beberapa kali, supaya santai kali yaa..

Alhamdulillah keinginanku di kabulkan Allah.
Ketika dinyatakan hamil sama dokter semua berjalan lancar, dikehamilan ketiga ini tidak ada kesulitan yang berarti aku alami. Morning sick juga nggak sering, bahkan suamiku menghitung selama hamil ketiga ini justru intensitas traveling bertambah. 

Selama hamil aku melakukan 13x perjalanan, domestik maupun international flight. Termasuk perjalan ke Jogja dan ikutan Merapi Lava Tour, naik jeep dengan kondisi jalan berbatuan yang goyang terus selama perjalanan. Lucunya pas hamil Kinara usia 4 bulan berangkat umroh dan pas 5 bulan aku juga sempet ikut trip keluarga ke Bromo loh.. 

Kehamilan ketiga ini aku lalui dengan santai, tidak ada rasa lelah yang berarti. Baru ketika masuk ke bulan ke tujuh itu rasanya jadi gampang capek banget. Disini aku jadi tau ketika kita sudah usia 30an dan hamil itu rasanya jompo banget deh.. mau naik tangga aja ngos ngosan dan mesti istirahat sebentar. Jadi kalau mau hamil sebaiknya usia 20an deh beneran..

Aku memang tidak membatasi ruang gerak, buatku kehamilan itu bukan sesuatu yang menjadi penghalang namun perlu waspada untuk menjaga. Jaga makanan, jaga hati dan jaga semua hal, tentu dilakukan yaa karena aku kan sedang mengandung seorang anak. Banyakin positif thinking aja..

Dapet dokter ObGyn yang ini juga ceritanya seru, sangat tidak membatasi ruang gerak, bahkan ngedukung terus semua rencana kegiatan yang kita konsultasikan seolah seperti tanpa ada pantangan yang perlu dikhawatirkan. 

Dr. Adytia Kusuma, adalah dokter kandungan untuk anak ketiga. Memberanikan diri untuk coba cari dokter baru yang prakteknya di rumah sakit dekat rumah. RSPI Bintaro Jaya. Setelah nyobain 2 dokter, satu perempuan dan satu laki, akhirnya aku pilih dokter laki. Bukan tanpa pertimbangan loh, kali ini malah lebih research. Yaa masalah muhrim gitu deh.. Tapi pemilihan dokter kebidanan itu kesepakatan berdua, kalau suami ridho aku tenang.

Nah ini review ku tentang dokter Adit; masih muda, cara bicaranya juga santai, jadi setiap konsultasi seperti ngobrol sama temen dan kita tidak merasa terburu2 seolah dokternya buru2 karena ada pasien lain. Hal ini jadi concern banget buat suamiku, karena dia yang paling banyak nanya sama dokternya. Bahkan dulu hamil Katya dia udah siapin list pertanyaan dari rumah. 

Enaknya Dr. Adit ini setiap mau periksa selalu matiin lampu, suster yang membantuku di tempat duduk periksa, sebelum mulai baca bismilah dan ngomong “maaf ya bu saya izin untuk periksa dulu.. assalamualaikum dek”
Kebetulan Dr Adit ini juga feto maternal, jadi bisa cek semua organ bayi pas empat bulan usia kandungan untuk tau apakah ada kelainan saat di kandungan atau tidak. Seperti trisomy, down syndrom, ngeliat klep jantung dll lengkap deh..

Alhamdulillah selama check up sampai dengan usia kandungan delapan bulan nggak ada masalah yang dikhawatirkan.
Sampai masuk ke minggu ke 34, keliatan ada pelambatan di grafik berat badan bayi. 
Dan aku disuruh makan yang banyak dan cek lagi di minggu ke 37. Jangan sedih, semua makanan termasuk es krim Haagen Dasz yang katanya bisa cepet naikin berat badan bayi, minum susu peptisol semua aku lakukan supaya berat badan bayi naik. 

Tapi yaa pas di cek lagi memang ada sesuatu yang jadi kendala, saluran dari aku yang mengalirkan sumber makanan untuk baby ternyata kecil dan baru ketahuan di minggu ke 34. Jadi mau makan sebanyak apapun asupan gizi dan makanannya tidak akan maksimal diterima baby. Kejadian ini baru pas sekarang, 2 kali lahiran sebelumnya aman aja. Katanya sih ada keturunan darah tinggi dari keluarga Mama di Padang. 
Selama ini nggak pernah liat dokter khawatir, baru kali ini dia sampai baca2 jurnal lagi dan cek berulang - ulang. 
Dalam hati "ya Allah ada apa niih.. La haula wala quwwata illabillah.."

Sampai disuruh balik lagi hari itu Kamis 28 Juni 2019, untuk CTG / periksa denyut jantung bayi. Aku datang sendiri karena suami ada janji meeting, aku pikir hanya periksa CTG biasa. 

Nah pas dilihat hasil dan dokter menyampaikan gini 
“Mbak Ria, ini hasil CTG-nya kurang memuaskan yah.. kalau saran saya lebih cepat lebih baik untuk kita melahirkan bayinya. Biar bayinya gede di luar kandungan aja, tapi sepertinya ini mesti tindakan caesar. “ 
Lemess…

Aku rasanya ingin nangis denger saran dokter Adit.
Berusaha nyari kursi deket ruang ObGyn, sendirian. 
Meskipun dia sudah menjelaskan baik buruknya, tetep aja dalam hatiku kenapa harus Caesar?? Posisi bayi bagus, semua bagus kok..

Aku beneran nggak siap mental untuk operasi, karena secara kondisi semua sangat memungkinkan untuk lahiran normal hanya kondisi berat badan bayinya yang kurang oke. Inget banget gimana dua anak sebelumnya aku bisa enak proses lahiran normal, walaupun induksi sakitnya minta ampun tapi ya udah abis itu udah selesai. 

Aku langsung telepon dan minta suami segera ke RSPI. Entah kenapa pas hari itu kebetulan ada praktek Dr Azen yang juga dokter Obgyn senior. Maksudnya aku ingin dapat second opinion. Bersama suami yang langsung meluncur habis meeting kita denger ternyata hasilnya ya sama, opsi untuk lahiran normal dirasakan berisiko tinggi karena sang bayi kecil hanya 2kg di usia 38 weeks, takutnya nggak kuat melakukan proses lahiran normal ini. 
Aku minta pulang dan berpikir, istikharah diskusi mana baiknya sama suami dan ibu mertua juga. 

Semua kaget, nggak menyangka akan lahiran secepat ini. Biasanya aku lahiran pasti lewat dari batas waktu, makannya 2x di induksi.
Pertimbangannya kalau aku tunda, juga nggak akan berpengaruh signifikan ke kenaikan berat badan bayi. Secara umur 38 weeks itu bayi sudah siap untuk lahiran. Mau nunggu lebih lama lagi juga bayinya tetap akan melalui operasi caesar, tidak bisa lahiran normal.
Ragu banget, antara takut sama nggak siap nerima kalau harus caesar.
Sampai suamiku bilang malam sebelum tidur, dia bilang 
“acceptance say, terima dulu ketentuan Allah nih”
"kita terima dulu keadaannya kayak gini, ini diluar kuasa kita. selama ini kita udah terbaik ngejaga bayi kan.. itu tugas kita. tapi tugas Allah yang menentukan mana yang terbaik." suamiku bilang gitu..

Disitu aku makin siap..
pertama kita terima dulu ketentuan Allah bahwa kondisinya begini.
Sesuatu yang diluar harapan, biasanya bikin kecewa. Tapi aku balikin lagi semuanya, bisa hamil aja kan juga karena amanah. 
Nah kalau udah pasrah gini biasanya semua pertanyaan why itu bisa hilang dan berubah jadi oke lets do this.
Kita berdua pikir semua bisa lahiran normal tapi ternyata enggak. 
Malam itu kita instrospeksi diri, dan bertanya tanya apa yang salah sama kita. 
kita istighfar bareng.. tapi abis itu ya pasrah. 
Sambil dalam hati "Ya Allah kalau memang ini yang terbaik buatku, aku ikhlas tapi tolong dibantu"
Malam itu aku merasakan aku nggak berdaya, Allah Maha Pengatur. 
Sehebat itu sudah di atur karena ternyata memang besoknya 29 Juni 2019 itu semua keluarga dari Padang sudah rencana ke Jakarta karena ada nikahan sepupuku tanggal 7 Juli. Terus keluarga suamiku juga pada ke Jakarta karena ada ulang tahun sepupu juga, jadi beneran pas moment lagi ngumpul semua. 

Jadi aku pikir banget, ini semua sudah di atur tinggal aku beneran mempersiapkan mental untuk melakukan operasi. Operasi pertama dalam hidupku. Aku pasrah rasanya mau diapain juga, toh ini hidupku milik Allah. 
Malam itu aku tidur lebih tenang.

Pagi itu hari Jumat 29 Juni 2019.
“Oke kita lahiran hari ini ya”, suamiku memantapkan tekadku pagi pagi abis subuh. Kadang kita tau yang kita mau, tapi butuh dikuatkan lagi aja. 
InsyaAllah hari jumat juga kaan. 

Jadi aku masuk RSPI dari jam 10 pagi, untuk melalui semua proses panjang persiapannya. Mulai dari suntik untuk memperkuat paru paru bayi, test CTG lagi, suntik test alergi, sampai terakhir adalah suntik bius. Lamaa sekali rasanya hari itu, nunggu dari pagi sampai persiapan lahiran yang diadakan setelah maghrib. Untung ada ibu dan bapak mertua yang nemenin, sementara suami kan bolak balik ngurus administrasi. 




Sampai tiba saatnya abis solat maghrib, tim perawat bersiap ngebawa aku untuk masuk ruang operasi. Di kamar udah kumpul semua termasuk Katya dan Kinara. “doain mama yaa naak..” aku izin ke Katya dan Kinara, mereka udah dikasih tau kalau sebentar lagi ketemu sama baby. 
Pengen nangis tapi di tahan supaya Kina dan Katya nggak khawatir..


Sebelum ke ruang operasi, kita masuk ke ruang transit. Disini sudah mulai steril bersih. Suamiku sejak awal lahiran dari Katya selalu nemenin, dan kali ini dia juga memutuskan untuk ikut nemenin dalam ruang operasi, karena ini juga pengalaman baru buat dia. 

"Lets do this together" katanya
Aku tau dia juga tegang, keliatan dari bolak balik photo dan instastory proses kelahiran, padahal untuk ngilangin rasa tegangnya juga tuh. 
Baru di ruangan ini aku nangis sebentar terus langsung dihapus airmatanya sama suami, soalnya kata suami nggak boleh khawatir, relax aja. dia ngeyakinin kalau nanti didalam bakalan di temenin kok.


Aku masuk ruang operasi duluan. didalam sangat steril, dingin, terang sekali. Ada banyak orang didalamnya, dokter obgyn, anestesi, dokter anak, bidan dan beberapa orang yang akan membantu. 
Terang sekali rasanya.. 
aku hanya bisa ngeliat ke langit langit dan sorot lampu operasi. Semua mempersiapkan alat, check kelengkapan. Aku hanya denger suara mesin yang selama ini aku bayangkan menegangkan.


“mbak ria mau dipasang musik atau ngaji? Tiba tiba ditanya sama dokter Adit. Oohh dibawain speaker bluetooth toh..
“mmm..pasangin surat al Kahfi ya dok” aku request gitu.
Sesaat kemudian, suamiku masuk yang udah pake baju hijau ruang operasi lengkap dengan penutup kepalanya. 
“Oke Pak kita berdoa dulu ya sebelum mulai” kata dokter, terus memperkenalkan tim dokter yang bertugas saat itu termasuk ke dokter anak Dr. Robert.
Aku sadar banget, aku tau kapan dokter mulai. 
Tapi suamiku berusaha mengalihkan dengan mimpin doa, shalawat supaya akunya tenang. Prosesnya cepat, cuma 30 menit udah selesai. 



Semuanya cepet banget rasanya, sampai tiba tiba dokter ngomong “Alhamdulillah, bayinya perempuan ya bu” kata dokter Adit
“Jam 7.03 29 Juni 2019” kata suster yang ada di sampingku.
Bayi keluar langsung diterima sama suster ada 2 orang dan dipindahin ke bawah lampu supaya hangat dan di handle sama Dr Robert. 
Suamiku ngikutin bayinya, ngeliat diapain aja. Katanya di periksa tensi, denyut nadi, di tetesin matanya. 
Ada nangis sedikit, abis itu diem. Sempet deg degan juga takut banget ada apa apa dan masuk ke NICU..
Suamiku bilang selama begitu keluar matanya sudah terbuka dan ngeliat sana sini kayak mau ngomong “ini dimana? Kok terang banget”.. keliatan kayak bingung bayinya. 


Suamiku balik lagi nemenin disebelahku.. Setelah ngeliat proses bayi diberishin dan di periksa tahap awal.
Udah lahir say.. alhamdulillah sehat. Itu lagi dibersihin dulu, aku udah minta untuk IMD. ntar mau dibawa ke kamu” kata suamiku. 
"Makasih ya sayang" katanya.. 
aku cuma tersenyum aja..

Sejak Katya lahir aku selalu minta IMD / inisiasi menyusui dini, proses IMD pun hanya sebentar 15 menit deh kayaknya, cuma syarat aja, itu juga di bantu sama suster untuk peletakan mulut bayi. Sama sekali berbeda pas lahiran normal Katya dan Kinara dulu sampai berkeringatan ada di dalam pelukanku. 

Nggak sabar pengen ketemu bayinya..
Setelah bersih, bayinya dikasih liat ke aku.. 
MasyaAllah... aku pengen nangiss.. 
"Naakkk ini mama.. kita kemarin bareng - bareng terus loh..ini Mama naakk" dalam hati aku seolah ngomong gitu.
Bayinya nggak nangis, matanya terbuka.


Dokter Robert bilang "sini tak photoin" dengan logat jawa, justru dia yang ngajakin photo. Kita bingung dong kok santai banget.  Tapi jadinya ada moment kita berdua didalam ruang operasi, sementara dokter Adit masih ngeberesin operasinya.



Sedih...
sedih banget rasanya nggak bisa lama lama sama bayi, karena langsung dibawa ke ruang bayi untuk oberservasi lebih lanjut. 
tapi seneng akhirnya aku bisa ketemu sama anak yang ditunggu selama 38 minggu ini. 

Suamiku pamit, karena mau ikut sama bayi ke ruang bayi untuk observasi lebih lanjut, mengadzanin juga dikamar bayi. Sementara aku masih proses dijahit tutup, terus dipindahin ke ruangan transit untuk istirahat.
Perut rasanya seperti kontraksi, ternyata itu proses mengecilnya perut dari yang melebar terus menyusut. Kayak balon kalau abis ditiup terus dikempesin, nah rasanya tuh sakit kayak kontraksi gitu. 
Pas bayi masuk kamar bayi, pas banget keluarga Padang datang.

Alhamdulillah Mama Papa selalu nemenin lahiran anakku, semuanya pas. Pas Kina juga gitu, mau lahiran normal emang pas mau mulai induksi pas Mama datang dari Padang. Malah waktu Katya dan Kina lahir mama ikutan nemenin dalam ruang bersalin. 

Mama datang ngejemput ke ruang transit untuk mindahin aku ke kamar istirahat, 6110 kamarku untuk 3 malam kedepan. Masuk kamar ternyata udah rame banget keluarga ngumpul, Katya juga masih nungguin.  
"Mana bayinya Ma?" kata Katya begitu aku masuk kamar.
"Sini Kat, kita cek di ruang baby yuk" suamiku langsung mengalihkan perhatiannya supaya aku bisa istirahat.

Sambil suamiku masih nunggu kabar gimana hasil observasinya di kamar bayi untuk tau proses bayinya gimana, Alhamdulillah nggak mesti masuk ruang NICU.


Malam itu rasanya aku pengen tidur aja.. tapi masih banyak tamu. 
Aku cuma bisa senyum dan minta maaf aja mesti sambil tiduran.
Perut masih sedikit nyut nyutan.. ngilu, perih, panas gitu.. 
Padahal kamar udah dingin tapi aku masih ngerasa keringetan..
Alhamdulillah banyak banget yang perhatian..
Tapi … Please let me sleep…

Besoknya aku baru ngerasain sakit, setelah obat biusnya hilang. Aku jadi ngerasain ternyata sama sakitnya, bahkan kalau boleh milih aku akan pilih sakit lahiran normal. Tapi ya sama aja sakitnya, jadi kalau ada yang bilang hebat ya lahiran normal, sekarang aku bilang sama hebat dengan yang lahiran caesar kali. Jangan dibanding2kan, perjuangannya sama aja loh..

Tapi bukan maksud jadi bikin takut, kalau udah liat bayi nya biasanya sakitnya hilang sih. 



Namanya Aluna Kahfia Rosadi.. Kahfia, suamiku yang pengen semua anaknya awalan K. katanya kalau ada AlElDul, Kwak Kwik Kwek, kita punya KatKinKahf. 
Artinya Anak keturunan keluarga rosadi yang mencukupkan. Cukup dalam arti semuanya pas, kita tidak boleh ingin punya semua, ingin lebih dan lebih.. tapi cukup itu lebih nikmat. Mungkin cukup tiga, meskipun sampai lahiran banyak juga yang bilang coba lagi ya buat anak laki. Haduuhh stereotipe orang Indonesia banget deh.. 
Tapi yaa.. itu bentuk perhatian orang beda beda yaa..
Aku cuma senyum aja..

Alhamdulillah Kahf lahir pas semua keluarga besar dari aku dan suamiku lagi pada ngumpul. Ada sepupuku yang nikah dan ada sepupu suamiku yang juga ngadain syukuran 1 tahun anaknya. Jadi keluarga dari Padang, Bandung, johor dan Malaysia pada ngumpul.




Tiga anak perempuan, mungkin ini yang terbaik dari Allah buat kita. Katya sayaang banget, keliatan dia udah siap jadi kakak, beda pas Kina lahir tuh Katya beneran jealous. Sementara Kinara liat adiknya masih heran, loh aku nggak jadi anak bungsu nih? Tiga Dara, Tiga malaikat cantik, yang katanya kalau 3 anak perempuan maka orang tuanya bisa dibebaskan dari neraka.. yah.. Aamiin..






ini siap siap mau pulang.. di jemput sama Mama dan Ibu..



Aku nulis ini nyicil banget, kalau lagi santai abis nyusuin, abis suami ke kantor, Katya sekolah SD dan Kinara masih asik main. Sambil ngeliat album photo lahiran di hp suamiku, sambil disebelah Kahfia, aku ingin berbagi kebahagiaan ini di blog. Banyak tamu yang datang, setiap hari minimal 2 tamu.. aku atur banget supaya nyaman.. kadang aku ngerasa aku yang nggak siap, masih cenut cenut sakit dalam perut abis operasi yang masih berasaaa bangeet.. 

Ternyata tiap anak punya cerita beda beda. Katya yang proses induksi panjaaang dari jam 7 malam sampai jam 4 subuh esok harinya. Kinara yang cuman 4 jam udah lahir, kalau kata dokternya pas Kina lahir itu semua proses normal dilalui dengan bagus. Ketuban pecah pas bayi lahir jadi keluarnya lebih lancar. Yang ketiga ini malah caesar.. Kadang sama suami suka becanda, jadi ngerasain semuanya yah.. 
“masih mau coba yang ke empat? Kata suamiku..
“pikir pikir dulu deh ya.. insyaAllah cukup tiga” insyaAllah kataku.

Dari sini aku tau hidupku akan banyaaak berubah kedepan, mungkin keinginan untuk bisa tampil show international sana sini jadi harus ditunda. 
Ada yang lebih prioritas dirumah, membutuhkanku setiap waktu. Suami dan team di kantor sudah bisa handle memikirkan bagaimana caranya..

Hidup memang pilihan, tapi punya 3 anak perempuan adalah pilihan yang terbaik. Karir bisa dikejar, tapi punya anak ini insyaAllah jadi bekal kita yang akan mendoakan kita nanti. Mereka justru jadi penyemangat, akan ada cara lain yang tidak terduga menggantikan apa yang kemudian aku tunda karena ada anak.

Ada yang bilang mau punya anak pas nanti setahun lagi, atau pengen kurus dulu supaya pas lahiran nggak gede2 banget dll.. Percaya deh, kalau kita ikhlaskan semuanya sudah diatur dengan sangat baik. 
Kita hanya perlu "menerima" apa yang sudah menjadi ketetapan, mau sehebat apapun rencana kita. 

Aku selalu mendoakan teman2ku yang menunggu momongan bisa segera diberikan. Agar kita bisa sama sama sharing gimana jadi orangtua yang seru dan istiqomah ngajarin agama sama anak. Kalau bareng2 sama temen kan lebih semangat yaa..



Love,


Ria


POPULAR POSTS THIS MONTH

Lahiran Anak Ketiga, Kahfia.

Assalamualaikum Kahfia!Punya anak itu seperti keajaiban, ada perasaan dibutuhkan dari seorang ...